Imbas Tinggal Di Negeri Takhyul

Anjing yang dikira jadi2an itu padahal hanya anjing jenis bull terrier. Dikira jadi2an karena bentuknya aneh, mirip babi. Entah emang orang Indonesia masih segitu tololnya, atau cuma orang Tangerang. Sekarang diamankan di polres, lalu orang2 yang mau adopsi dipersulit. Mau dijadiin ladang duit? Kowawa!

Tagged , , , ,

Yang Tenar

Orang selalu bilang: jadilah diri lo sendiri, elo unik justru bagus, kalo biasa siapa yang bakal ngeliat elo?

Tapi ternyata gak sepenuhnya bener. Ketidakbiasaan yang ekstrim justru dibilang freak. Deviant. Walau jaman sekarang jadi deviant adalah sesuatu yang common (see the irony?). Benci karena hal yang disukainya sejak lama tiba2 jadi hal yang biasa diperbincangkan di halte2 adalah hal yang sekarang sangat biasa. Ini fakta tanpa gwe perlu merendahkan pihak manapun.

Menjadi tenar ternyata gak perlu harus jadi beda. Paling2 yang membedakannya hanya cara berpikirnya, kelakuan sehari2nya sih common.  Bedanya adalah orang2 ini sadar kalo mereka gak beda, justru menggalinya dan jadi sesuatu yang terlihat beda sama commoner.

Bener gak?

Gak tau. Gwe gak tenar.

Kimi No Yubisaki

Gak nemu apa arti judulnya. (abis nanya temen, arti yubisaki itu ujung jari)

Sore itu Makita dan Fujisawa menghabiskan waktu berdua, sekadar mengobrol, ngalor ngidul, tanpa topik. Sore itu sunyi, hanya terdengar suara gemuruh laut. Sesunyi tiap kata yang tercetus dari mereka berdua.

Walau hati mereka jauh dari sunyi.

Tapi tak keluar.

Satu-satunya hanya tanya Makita, “Kenapa kau pindah sekolah?”

Yang sebenarnya bukanlah sebuah pertanyaan, melainkan kalimat yang terus terngiang di kepala karena ketidakrelaannya.

Fujisawa hanya tersenyum dan menunduk, tak perlu ia jawab tanya yang telah berulang kali ia jawab hari-hari lalu.

Pembicaraan berhenti, tapi keduanya seakan ingin saling mencetuskan topik obrolan baru, tak henti-henti. Hingga topik yang sebelumnya pun tercetus lagi.

Tanpa sadar mereka menciptakan momen terakhir mereka.

Tanpa sadar,

tak terlihat,

namun ada.

Planetarium

Planetarium
oleh Ai Otsuka

Terang rembulan di sore hari
Anak kecil tiada meriuh
Jauh, jauh, dirimu kurasa entah di mana berada di angkasa
Di penghujung musim kemarau, kita mengendap-endap ke padang rumput yang kita temukan
Masihkah kau ingat gugusan bintang itu?

Meski ku tak lagi bisa bertemu denganmu, ingin kukejar kenangan dan tunjukkan,
bersama pancaran kembang api di langit, kebahagiaan itu.

Kuingin hidup dan sadari nafasku, kuingin berlari ke tempat kau berada
Meski ku takut, buta di kegelapan, sadarlah ku tak apa-apa
Lihatlah lihat, langit masih gemintang, bintang masih berkelip, hingga waktu tak berujung
Ku tak bersedih, cantik langit itu tak ubahnya seperti dahulu kala

Suara langkahmu masih terdengar di telingaku dan bergema sepanjang jalan itu
Kurasa ku hanya menatap bayanganku

Mungkin saja ini tak akan berubah, pilu hati kian hari semakin perih
Apapun yang kurasakan, kau tak lagi bersamaku

Kuingin hidup meski sejenak waktu, sejenak sadari ada kau di sisiku
Kau yang kusayang, yang paling kusukai, yang buatku bisa bertahan
Berulang kali lirih kubisikkan harapanku pada tiap bintang-bintang yang jatuh
Ku tak bersedih, bisakah kau mendengar? Di indahnya langit ini

Meski ku tak lagi bisa bertemu denganmu, ingin kukejar kenangan dan tunjukkan
Bersama pancaran kembang api di langit, kebahagiaan itu.

Kuingin hidup, menggapai tanganmu, menggenggamnya erat menuju ke peraduanmu
Ingin menangis lihat langit itu, cantiknya masih s’perti dahulu kala
Berulang kali lirih kubisikkan harapanku pada tiap bintang-bintang yang jatuh
Ingin menangis, kau tak mampu raih perasaanku di langit ini

(diterjemahkan oleh Ignas Praditya Putra) 

Halo, Selamat Tinggal

“Halo, Selamat Tinggal” adalah debut penyutradaraan dan penulisan skenario teman cewek gwe yang paling pecicilan, Gadis Dellilah. Berawal dari tugas kampus menjadi sebuah proyek serius yang melibatkan anak2 DG, doi langsung tampil di tengah diskusi-diskusi hangat beberapa kantong pemutaran film independen, tanda sebuah film diterima dengan baik oleh para penontonnya.

Berkisah tentang hubungan Mala dan Risa di sebuah taman, “Halo, Selamat Tinggal” cenderung merupakan sebuah refleksi. Pertanyaan, harapan, keputusasaan, keluhan, dan penyesalan yang terus berputar dan berulang dalam batin ketika satu cahaya yang biasanya menerangi satu sisi hati kita itu kini hilang.

Film ini adalah pengulangan demi pengulangan kenangan manis yang masih jelas teringat, sebuah penyangkalan bahwa hari ini bukan lagi hari-hari yang adem itu lagi.

Dengan sentimentil, Gadis menghadirkan sebuah memorabilia berupa boneka kelinci buluk. Kadang kita memajang barang yang paling membuat kita teringat momen menyenangkan, foto pacar di meja belajar, topi Mickey Mouse sebagai kenangan Disneyland, topi meneer Belanda sebagai kenangan Kota Tua, buku tahunan atau medali alma mater, bahkan kartu ulang tahun yang kau simpan sejak kau berumur 5 tahun. Boneka kelinci adalah sebuah memorabilia seluruh kenangan manis Mala bersama Risa.

Film ini adalah sebuah pelegaan. Adalah waktu yang menjawab dan menyembuhkan. Pada satu titik, kita akan kembali ke dunia nyata, menyimpan kenangan itu di rak batin yang selalu diseka dari debu, dan kita pun akan kembali tersenyum.

Kembali melangkah.

Not to forget, but to let go.
Moving on.

Oh, Audrey….

Ini foto Audrey Hepburn bersama Mr. Famous.

Tiga hari ini gwe lagi kesengsem berat dengan Audrey Hepburn, aktris Hollywood yang besar sekitar taun 60-an. Awalnya hanya sebuah pencarian lagu yang disukai Hedwi, Moon River, di Youtube, lalu gwe dapati adegan di mana Hepburn menyanyikan lagu itu di film Breakfast At Tiffany’s. Pencarian berlanjut ke opening credit yang membuat gwe trenyuh. Gwe putuskan…

thepiratebay

Yeah, gwe donlot filmnya, HD 720p, via torrent, lalu gwe tonton di kala senggang. Awalnya gwe nonton sambil lalu, sambil sesekali chatting BBM, mainin iPod, baca buku, sampai akhirnya gwe tanpa sadar mulai konsentrasi menyimak ceritanya, sampai sesekali gwe ulang adegan2 yang kelewat gara2 gwe BBM-an dll itu. Gwe mulai menyadari bahwa akting salah satu dari 100 bintang Hollywood terbesar sepanjang masa ini bukan sekadar romantisme belaka. Mungkin gwe berlebihan karena baru nonton satu film yang dia bintangi, tapi dari satu film ini saja gwe bisa bilang sangat jarang aktor Hollywood jaman sekarang yang bisa menggugah perasaan gwe sampe segininya.

Tiba-tiba saja gwe jatuh cinta. (kepada fiksi seorang Audrey Hepburn tentunya)

Gwe jatuh cinta dengan warna suara dan aksennya. Warna kulitnya yang mulus. Lehernya. Collarbone-nya.

Gwe jatuh cinta dengan caranya mengernyit, ketika ia mengatakan kata “darling”, dan ketika ia bersandar di sofa yang terbuat dari bath tub itu sambil minum susu.

Gwe jatuh cinta dengan kesendiriannya makan pagi di depan etalase toko perhiasan Tiffany and Co.

Dan yang paling bikin gwe meleleh, gwe jatuh cinta dengan caranya berkata “hai” sehabis menyanyikan Moon River. Tontonlah, dan rasain.

 

Tagged

Jangan Larang Topeng Monyet

Topeng Monyet adalah salah satu kesenian Indonesia, entah aslinya dari daerah mana, belom riset. Waktu masih SD dan bertempat tinggal di daerah yang bisa dibilang belum kota saat itu, Pamulang, Topeng Monyet sering terlihat sore-sore, nimbrung di tempat yang banyak orang dan anak2 nimbrung. Kalo ada Topeng Monyet, anak2 pasti rame dan senang. Gwe termasuk anak yang menikmati Topeng Monyet saat itu.

Sejak pindah ke daerah yang lebih beradab pada 1997, gwe jarang liat lagi Topeng Monyet karena daerah perumahan ini cukup tereksklusi (oleh pagar pembatas kompleks perumahan, hutan bambu, kali, dan jalan raya). Akhir-akhir ini aja gwe mulai banyak lagi liat Topeng Monyet, tapi tempatnya tidak lagi di daerah pemukiman melainkan di JALAN RAYA. Jakarta yang kian macet ternyata jadi ladang pawang monyet untuk mengais rezeki dengan nimbrung di pinggir jalan sambil mengadakan aksi Topeng Monyet, dan gak jarang tiap jarak 3 meter sekali ada Topeng Monyet lainnya. Salah satu daya tarik Topeng Monyet kan iringan lagu si pawang yang biasanya pake gendang. Nah, dengan kondisi berada di dalam mobil kedap suara dan radio nyala, monyet2 itu seakan beraksi dengan iringan lagu RnB/Hiphop kan? Gak matching!

Jakarta Animal Aid Network (JAAN) baru aja kelar menggelar aksi protes terhadap Topeng Monyet.

Gambar di sebelah salah satu ilustrasi stimulan untuk para pecinta satwa siapapun.

Alasan JAAN mengadakan aksi protes Topeng Monyet adalah karena kejamnya perlakuan manusia terhadap monyet2 itu. Disebutkan di artikel2 bahwa monyet2 itu hasil perdagangan satwa liat dari hutan2 yang dilakukan secara ilegal. Disebutkan juga di artikel2 bahwa cara pelatihan monyet2 itu sangat kejam dan gak berperikemonyetan. Ada yang bilang kalo monyet2 itu berpotensi menyerang penonton dan membuat mereka cedera sehingga menimbulkan penyakit akibat cakaran atau gigitan. Ada yang bilang kalau Topeng Monyet di jalan raya itu bahaya karena rawan dilindas kendaraan bermotor dan buruknya udara akibat polusi, serta terik matahari yang menyiksa.

Gak ada yang salah dari alasan2 yang dikemukakan JAAN.

Sayangnya alasan2 itu berkesimpulan untuk melarang keberadaan Topeng Monyet. WTH?

Oke, kita urutin lagi alasannya:

1. Monyet hasil perdagangan ilegal
2. Monyet dilatih dengan kekerasan
3. Monyet dirantai
4. Monyet berpotensi menyebarkan penyakit
5. Monyet beresiko terlindas dan sakit paru2 akibat polusi

Sekarang gwe tanya, apa salah Topeng Monyet dari itu?

Gwe yakin orang2 yang ikut aksi ini adalah orang2 yang ga jauh beda dengan orang2 yang gak suka dengar Foke bilang “jangan pake rok mini biar gak diperkosa”, Ramli Mansur bilang, “yang gak ikut hukum syariah minta diperkosa”. Kenapa dengan logika yang sama gak diterapkan untuk Topeng Monyet? Kalo penyanyi dangdut banyak yang topless waktu saweran di kampung2, emang dangdut harus dilarang gitu?

Topeng Monyet itu menghibur, lucu, unik, dan salah satu aset budaya.

Apa bedanya dengan atraksi binatang di kebun binatang atau atraksi anjing? Bedanya adalah praktek ini melakukan hal2 yang sebaliknya dari alasan2 protes JAAN yang gwe tulis di atas.

Seharusnya bukan Topeng Monyet yang dilarang, melainkan perdagangan ilegal monyet, dan pelatihan monyet dengan kekerasan. Topeng Monyet itu harus diatur: tidak boleh tampil di jalan raya, monyet harus divaksin, pawang harus punya sertifikat, dan berbagai kemungkinan lain selain larangan Topeng Monyet.

Pasti ada Topeng Monyet yang hidupnya kayak Remi, kartun anak2 3D (yang pake kacamata merah biru itu) yang sebagian dari kita pernah tonton dulu.

Tagged , , ,

Mint Bisa Salaman

Dua hari lalu untuk pertama kalinya Mint bisa diajak salaman. Padahal selama ini gw ngasal cara latiannya. Cuma ngangkat kaki kanan depannya seperti orang salaman sambil bilang ‘salam’ lalu kasih treat. Sekarang dia kalo disodorin tangan dan dibilang salam, langsung balas salam. Hehehe..

Tagged ,

Klik

Dulu orang butuh menempuh jarak, meneteskan peluh, untuk bertemu.

Dulu orang butuh kartu untuk menyimbolkan dalamnya rasa yang tertuang dalam sebuah ucapan.

Dulu orang butuh hadirnya suara untuk mengetahui ekspresi dari intonasi dan lafal.

Untuk membentuk suatu “klik”

 

Sekarang tinggal klik.

Like.

Broadcast Message.

Reminder.

Emoticon.

Pepper Kena Demodex

Pepper, anjing golden retriever gwe, kena demodex.

Singkatnya demodex adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau parasit Demodex canis, mengakibatkan kulit menebal, warnanya merah, berkerak, rambutnya rontok di sekitar kulit tersebut, gatal, lalu bikin pengen digaruk dan setelah digaruk bisa berdarah dan infeksi. Dari selancar sana-sini, gwe menemukan banyak pendapat mengenai menular tidaknya penyakit ini. Yang pasti, tungau  demodex memang ada di semua anjing sejak kecil, dan akan mengganas ketika kekebalan tubuh anjing menurun dan stres.

Sebelumnya gejala ini udah gwe liat minimal sejak Februari di kedua alisnya. Gwe pikir itu jamur, dan dokter hewan yang gwe temui di Paw Day pun mengira itu jamuran, maka gwe beli salep jamur dan menjaga kondisi badannya agar gak lembab. Sejak itu juga sebenarnya Pepper udah gak terlalu nafsu makan, gak seperti dulu waktu baru dateng ke rumah ini. Tapi kondisinya masih terlihat vit, lari2 ke sana kemari, sukanya ngajak maen, dan minimal satu mangkok makanannya habis untuk sehari.

Salep itu sepertinya bisa menangani masalahnya. Kulit yang membengkak sudah mulai kembali normal dan tidak berkerak lagi.

Tapi ternyata hanya pindah tempat. Tiga hari lalu setelah memandikannya gwe baru sadar, kali ini kulit yang menebal itu berada di sekitar hidung dan mulut. Akhirnya gwe putuskan untuk ke dokter hari ini.

Gwe mendatangi drh. Koesharyono di daerah Dapur Susu, Jaksel, karena rekomendasi tetangga yang kayaknya bangga banget sama dokter itu karena murah. Sampai di sana, gwe agak salah tingkah karena plangnya bertulisan drh spesialis bedah tulang, tapi ya udah lah masuk aja.

Ngantri, lagi ada operasi di dalam.

Datang pemilik golden puppy yang minta vaksin. (dan nyerobot gwe sih)

Datang pemilik  pomeranian yang kakinya patah.

Lalu setelah vaksin puppy dan ngembaliin anjing yang tadi dioperasi itu, gwe masuk.

“Oh.. demodex ini. Repot ini.” kata dokternya. Ada 3 orang di situ, jadi gwe gak yakin mana yang drh. koes. Mungkin yang pake jas putih dan paling tua.

Dia kasih gwe obat IVERMECTIN ORAL dengan dosis:
minggu I     : 1.2 ml (7 hari)
minggu II   : 0.6 ml (7 hari)
minggu III : 0.6 ml (2 hari sekali)
minggu IV : 0.6 ml (2 hari sekali)

plus vitamin natur-e biasa buat daya tahan tubuh.

biayanya…. mahal hiks..

konsultasi 90ribu dan obat 380ribu…

dan karena di dompet cuma ada 300ribu jadinya gwe ngutang -_- untung gak apa2.

Sekarang mari merawat Pepper.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers