Posted in March 2011

Jalan Kaki, TAPI PANAS! Solusi?

Mobilisasi di Jakarta itu sangat gak manusiawi.

Mau jalan kaki susah. Trotoar diembat pedagang kaki lima, kios pinggir jalan, tukang tambal ban, sepeda motor tolol, hingga pasar. Selain itu trotoar jarang.

Mau naik angkutan umum gak nyaman. Supirnya ugal2an, gak peduli rambu dan marka jalan, suka ngetem, suka meng-expand terminal hingga muncul terminal2 bayangan di tempat2 yang seharusnya bukan terminal, kejar setoran hingga penumpangnya desak2an. Kalo nabrak gak bisa tanggung jawab karena gak punya duit, bosnya gak jelas siapa, kadang yang nyetir juga anak ingusan yang gak punya SIM.

Mau naik mobil pribadi? Kaki kiri pegel ngopling. Kalopun pake matic, siapa bisa tahan jamuran di jalan? Yang numpang doang emang juga tahan? Masa dari lebak bulus ke PIM aja hari sabtu bisa hampir 2 jam? Udah gitu bensin makin lama makin mahal. Trus kalo mobil diserempet pengguna jalan laen urusannya jadi repot.

Mau naik sepeda motor? Mungkin ini yang paling enak, bisa nyelip2, bensin relatif lebih murah, dan manuver2nya cepet. Tapi kalo hujan pada berhenti di jalan sembarangan. Trotoar diembat. Trus pengendaranya suka ga tau diri, udah punya keuntungan2 itu tapi di jalan masih ngotot. Kalo gwe jadi DPR, gak cuma peraturan nyalain lampu dan jalan di kiri, bahkan peraturan gak boleh bunyiin klakson juga gwe bikin.

Mau naik kereta? Mau. Tapi kapan ada kereta di lebak bulus? Tunggu MRT :D

Taksi? Meh..

***

Sebenernya ada dua alternatif lagi buat mobilisasi di Jakarta: naik sepeda dan jalan kaki. Soal naik sepeda udah banyak yang bahas di situs2 dan blog lain. Sekarang gwe mau bahas jalan kaki.

YANG INI COMBO!

Gak bisa dipungkiri jalan kaki di Jakarta pun gak kondusif. Trotoar gak ada. Kalo ada pun diembat yang punya kuasa. Zebra cross (baru sadar, kita punya istilah nginggris lain di jalan raya selain BUSWAY!) gak pernah digubris pengendara kendaraan bermotor. Kalo ada trotoar bagus tau2 ada pot GEDE di tengah, trus terpaksa pejalan mesti turun ke jalan (emang demo?) buat meneruskan jalannya, lalu masuk lagi ke trotoar setelah melewati pot tolol itu. Kalo nggak pot, ada pohon gede yang gak ditebang. Beberapa trotoar jadi pasar, sehingga pejalan kaki masuk ke jalan, sehingga jalan jadi sempit, makin macet, contohnya Pasar Minggu. Belom lagi kalo hujan kehujanan, kalu panas kepanasan.

Nah, untuk yang terakhir sebenarnya ada solusi sederhana.

PAYUNG

Kalo ujan sih oke pake payung, tapi kalo nggak?

Lho, kenapa mengharamkan payung di saat gak hujan? Kita sendiri tau, kita tinggal di negara tropis, daerah khatulistiwa di mana jarak matahari ke bumi adalah yang terdekat, sehingga sinar matahari bisa sangat terik. Naik mobil kalo kacanya gak dilapisi film, pasti kulit kebakar juga. Selain sunblock lotion, yang biasanya malas dipakai pria non-metrosexual salah satu cara menghindari kontak langsung dengan matahari tentu saja adalah penggunaan payung.

Mungkin sebagian akan bilang malu karena payung biasanya digunakan oleh perempuan. Tapi di jaman sekarang, apa salahnya cowok2 juga ikutan bergaya? Lagipula tidak semua payung gaya itu hanya cocok untuk cewek. Kita lihat contoh2nya.

Payung bermotif FU ini seolah mengatakan “EF U RAIN!” Kewl!

***

Payung ini pasti milik para Jedi.

***

Payung aerodinamis ini memecahkan masalah angin kencang yang biasanya bikin payung kita kebalik!

***

Payung ini jelas gak mungkin buat hujan… Tapi dipake saat matahari terik bisa bikin kita teduh =]

***

Payung pasangan! Kurang kewl apa?

***

Buat yang suka gowes, payung ini pasti berguna banget.

***

Begitu pengguna payung makin banyak, payung sopan ini pasti berguna agar gak sering tabrakan.

***

Sumpah payung jamur ini keren abis. Gwe pengen!

***

Walau mungkin lebih enak ponco, tapi payung UFO ini lucu buat anak kecil!

***

Bingung taruh payung di mana? Ga usah! Payung ini berdikari!

***
Tangan penuh? Payung ini gak butuh tangan.

***

Payung ini juga membantu kita yang letih berjalan kaki.

***

Masih bingung taruh payung di mana? Tenteng aja jadi tas!

***

Ini payung yang dilipetnya ke dalam, jadi ke mana2 seperti cuma bawa tongkat.

***

Dan peliharaan kita pun bisa bergaya pake payung!

***

Ahh… kapan ya gwe bisa jalan kaki dengan nyaman ke mana2. Berhenti di halter, nunggu bus dengan tenang, masuk dengan tertib, turun dengan nyaman, jalan lagi dan jalan lagi. Panas? Tinggal buka payung. Mungkin perlu ada inovasi payung kipas di Indonesia =D

 

Jakarta, give me Orchard Road please…

 

Sumber:

http://www.aliexpress.com/product-gs/323380733-Fan-Umbrella-wholesalers.html

http://www.yankodesign.com/2009/05/08/ten-unconventional-umbrella-designs/

http://www.toxel.com/tech/2009/09/09/12-fun-and-creative-umbrellas/

http://www.oddee.com/item_96678.aspx

Google
etc

Disclaimer:
All pictures above are not mine. I redirected them here. If you found this inapproriate, kindly contact me. Thanks.

POT Y U NO

ketika trotoar tak penting

Tak Perlu Dibaca

Kepedean

Siapa juga yang mau baca?
Pentingnya apa untuk dibaca?

Tak lebih dari untaian bit data yang terketik
Tak lebih dari rangkaian huruf belaka

Aku tak punya nyawa lebih untuk kuhembuskan kepada tiap tuturku
Menurutmu sadar atau tidak

Bait ini seperti lalu lalang sepeda motor yang membanjiri jalan-jalan Jakarta
Sekelas CBR, namun apa artinya bisa tersaput debu, sama dengan yang lain

Tak perlu dibaca
Rasakan saja (kalau ada waktu)

Waktu ada kalau saja kau rasa
Waktuku, baitku, rasaku padamu

2011 – 03 – 17

Angin Sejuk Hari Ini

Siang tadi aku keluar dari dinginnya pendingin ruangan Senayan City.

Angin bertiup.

Langit kelabu.

Pemandangan kota membiru.

Kusadari tiupan angin itu, kala aku menikmati basah trotoar, dingin.

Hari ini sejak semalam hujan turun tak berhenti. Kala itu aku berjalan di tengah rintik2 kecil yang menambah getir gigit sengatan dingin suhu hari ini.

Sekonyong-konyong aku terhanyut. Aku lupa. Aku merasa berada di tempat lain.

Berkelebat bayangan muncul di kepalaku.
Mengenai damainya trotoar Melbourne.
Mengenai sepinya sudut jalan Nordhausen.
Mengenai langit kelabu Tokyo.

Aku memanggil gadis di sebelahku, menggamit lengannya, agar kita menyeberang lewat zebra cross.
Itu peraturan.
Lebih dari itu, itu etika.

Seorang satpam membawa papan bertulisan stop menyemprit peluitnya untuk menahan laju kendaraan bermotor.
Aku menyeberang.

Dan ketika sebuah mobil Avanza menerjang tak ingin memberiku jalan
dan sekelebat sepeda motor hampir menyerempetku,
aku tersadar…

Aku masih di Jakarta.

Kapan?

trotoar nyaman untuk jalan
menyeberang di tempat yang benar
menyeberang tanpa takut diserobot kendaraan
kendaraan yang menghormati pejalan kaki
menunggu angkutan di halte
turun dari angkutan di halte
di persimpangan jalan terdengar bunyi alarm lampu lalu lintas khas untuk pejalan kaki menyeberang
trotoar luas, tak ada pedagang kaki lima
lelah, duduk di bangku pinggir jalan
haus, mampir sejenak di kedai kopi dan menikmatinya di bangku yang ada di tengah trotoar
pepohonan rindang membuat jalan adem
tuna netra berjalan di atas jalan bercat kuning berkontur khusus
sepeda lalu lalang di jalurnya
klinting, bunyin peringatan bila ada pejalan kaki masuk jalur sepeda
mobil pribadi… di mana mereka? ah itu sesekali lewat, penuh penumpang
sepeda motor sopan
di mana suara kaleng diseret khas motor 2 tak itu? ah tidak ada lagi

sekarang pukul 18.45
hampir waktunya
aku turun ke bawah tanah, menaiki kereta dari lebak bulus
pukul 19.00 aku bertemu dengannya di stasiun senayan

menikmati jalan kaki adem
malam ini

kapan?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers