Posted in April 2011

Pepper Kena Demodex

Pepper, anjing golden retriever gwe, kena demodex.

Singkatnya demodex adalah penyakit kulit yang disebabkan tungau parasit Demodex canis, mengakibatkan kulit menebal, warnanya merah, berkerak, rambutnya rontok di sekitar kulit tersebut, gatal, lalu bikin pengen digaruk dan setelah digaruk bisa berdarah dan infeksi. Dari selancar sana-sini, gwe menemukan banyak pendapat mengenai menular tidaknya penyakit ini. Yang pasti, tungau  demodex memang ada di semua anjing sejak kecil, dan akan mengganas ketika kekebalan tubuh anjing menurun dan stres.

Sebelumnya gejala ini udah gwe liat minimal sejak Februari di kedua alisnya. Gwe pikir itu jamur, dan dokter hewan yang gwe temui di Paw Day pun mengira itu jamuran, maka gwe beli salep jamur dan menjaga kondisi badannya agar gak lembab. Sejak itu juga sebenarnya Pepper udah gak terlalu nafsu makan, gak seperti dulu waktu baru dateng ke rumah ini. Tapi kondisinya masih terlihat vit, lari2 ke sana kemari, sukanya ngajak maen, dan minimal satu mangkok makanannya habis untuk sehari.

Salep itu sepertinya bisa menangani masalahnya. Kulit yang membengkak sudah mulai kembali normal dan tidak berkerak lagi.

Tapi ternyata hanya pindah tempat. Tiga hari lalu setelah memandikannya gwe baru sadar, kali ini kulit yang menebal itu berada di sekitar hidung dan mulut. Akhirnya gwe putuskan untuk ke dokter hari ini.

Gwe mendatangi drh. Koesharyono di daerah Dapur Susu, Jaksel, karena rekomendasi tetangga yang kayaknya bangga banget sama dokter itu karena murah. Sampai di sana, gwe agak salah tingkah karena plangnya bertulisan drh spesialis bedah tulang, tapi ya udah lah masuk aja.

Ngantri, lagi ada operasi di dalam.

Datang pemilik golden puppy yang minta vaksin. (dan nyerobot gwe sih)

Datang pemilik  pomeranian yang kakinya patah.

Lalu setelah vaksin puppy dan ngembaliin anjing yang tadi dioperasi itu, gwe masuk.

“Oh.. demodex ini. Repot ini.” kata dokternya. Ada 3 orang di situ, jadi gwe gak yakin mana yang drh. koes. Mungkin yang pake jas putih dan paling tua.

Dia kasih gwe obat IVERMECTIN ORAL dengan dosis:
minggu I     : 1.2 ml (7 hari)
minggu II   : 0.6 ml (7 hari)
minggu III : 0.6 ml (2 hari sekali)
minggu IV : 0.6 ml (2 hari sekali)

plus vitamin natur-e biasa buat daya tahan tubuh.

biayanya…. mahal hiks..

konsultasi 90ribu dan obat 380ribu…

dan karena di dompet cuma ada 300ribu jadinya gwe ngutang -_- untung gak apa2.

Sekarang mari merawat Pepper.

Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Saat Obsesi Sangkutkan Jangkarnya

Apa itu obsesi?

Ketika seorang perempuan yang memabukkanmu dengan halus tegur sapanya kemudian hadir kembali saat tiada hasrat untuk bertemu, ketika itulah rindu yang terpendam menyeruak lagi ke luar, tertumpah dalam jutaan bait-bait puisi yang berputar-putar pada satu kesimpulan berupa PERTANYAAN. Pertanyaan yang mungkin hanya sebuah, namun berakar-akar hingga tak jelas lagi ujung pangkalnya dan kembalilah saja ia pada lagi-lagi sebuh pertanyaan. Sesederhana bertanya, “Perasaan apa ini?”

Ironis, orang yang paling tak kita kenal justru merupakan diri kita sendiri. Orang selalu berkata, “aku tahu siapa aku.” namun mereka pun lupa bahwa mereka harus bertanya, “kau tahu siapa aku?” yang kemudian tidak pernah cukup hanya dengan pengakuan dan kesadaran orang lain bahwa kita ada. Kembali kepada diri sendiri yang harus dipertanyakan kebenarannya mengenai pengetahuan akan dirinya sendiri.

Orang akan berkata, tutup matamu, dengarkan dengan seksama denyut jantungmu, rasakan aliran darahmu mengaliri tiap-tiap relung pembuluh darah, ikutin ke mana air liurmu kau telan, pahami udara yang baru kau hirup dan hembuskan, hingga ketika sinar matahari memaksa pupilmu menutup kala kau membuka lagi matamu, kau akan kembali bertanya, “itukah diriku? sekumpulan sistem biologis fisika yang tengah berpikir?”

Lalu di mana gerangan sosok yang dari tadi kucari-cari ke dalam tubuhku, rasaku, anganku?

Aku tahu ia berenang-renang tanpa lelah di kepalaku, tapi sekali lagi kutanyakan padamu, di mana?

Tersangkut di mana jangkar yang kau buang, sehingga sulit kucari untuk kuangkat dan kubuang? Tertatih-tatih aku berjalan menyusuri jejak-jejak kita yang tak pernah lagi kau injak. Berapa kalipun kujejaki lagi, di sana cuma ada dua jejak kita, sementara jejakku bertumpuk-tumpuk dengan yang baru.

Tak inginkah kau pulang dan menjemputku ke tempatmu melayang sekarang?

Tagged , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers