“Halo, Selamat Tinggal” adalah debut penyutradaraan dan penulisan skenario teman cewek gwe yang paling pecicilan, Gadis Dellilah. Berawal dari tugas kampus menjadi sebuah proyek serius yang melibatkan anak2 DG, doi langsung tampil di tengah diskusi-diskusi hangat beberapa kantong pemutaran film independen, tanda sebuah film diterima dengan baik oleh para penontonnya.
Berkisah tentang hubungan Mala dan Risa di sebuah taman, “Halo, Selamat Tinggal” cenderung merupakan sebuah refleksi. Pertanyaan, harapan, keputusasaan, keluhan, dan penyesalan yang terus berputar dan berulang dalam batin ketika satu cahaya yang biasanya menerangi satu sisi hati kita itu kini hilang.
Film ini adalah pengulangan demi pengulangan kenangan manis yang masih jelas teringat, sebuah penyangkalan bahwa hari ini bukan lagi hari-hari yang adem itu lagi.
Dengan sentimentil, Gadis menghadirkan sebuah memorabilia berupa boneka kelinci buluk. Kadang kita memajang barang yang paling membuat kita teringat momen menyenangkan, foto pacar di meja belajar, topi Mickey Mouse sebagai kenangan Disneyland, topi meneer Belanda sebagai kenangan Kota Tua, buku tahunan atau medali alma mater, bahkan kartu ulang tahun yang kau simpan sejak kau berumur 5 tahun. Boneka kelinci adalah sebuah memorabilia seluruh kenangan manis Mala bersama Risa.
Film ini adalah sebuah pelegaan. Adalah waktu yang menjawab dan menyembuhkan. Pada satu titik, kita akan kembali ke dunia nyata, menyimpan kenangan itu di rak batin yang selalu diseka dari debu, dan kita pun akan kembali tersenyum.
Kembali melangkah.
Not to forget, but to let go.
Moving on.