Malam ini pikiran acak gwe membawa gwe ke cetusan ingatan mengenai senyum yang menenangkan. Gwe berpikir, kadang ada orang-orang yang punya “bakat” tersenyum simpatik dan aksinya itu dapat memberikan rasa lega kepada yang hatinya sedang gundah. Minimal ada dua perempuan yang pernah membuat gwe merasa tenang hanya dengan lontaran senyumannya, dan ingatan ini begitu kuat sehingga dua orang ini menjadi ikon di kepala gwe ketika gwe membicarakan rasa tenang itu.
Ingatan yang pertama ada Ananda, ketika itu gwe bertemu dia usai misa di gereja, udah cukup lama. Saat itu gwe sedang jatuh terpuruk sehingga banyak pekerjaan dan kewajiban jadi terlantar. Satu senyum simpatik dan pertanyaan yang entah keluar dari mana, “Ada masalah, Naz?” membuat gwe tercenung dan bertanya-tanya. Air muka gwe sepertinya gwe tahan untuk biasa aja, tidak ada teman2 baik gwe yang menyadari, namun perempuan ini yang tidak begitu akrab seperti melihat nyala api di hati gwe menjelang padam. “Dari mana lo tau, gwe ada masalah?” gwe bertanya. “Feeling aja,” jawabnya. Gwe mengiyakan adanya masalah, namun gak gwe ceritain. Dia hanya tersenyum dan menepuk pundak gwe sambil berkata, “yang kuat ya, Naz.” Ketika itu gwe seperti mendapatkan energi baru.
Ingatan yang kedua terjadi tidak lama dari sekarang. Gwe pun sedang jatuh, hilang arah, bingung. Gwe tidak menceritakannya pada siapapun saat itu, belum saatnya. Tiba-tiba pada suatu klik, ketika gwe dan Amantha kebetulan duduk bersebelahan, dia seperti memandang gwe dengan perasaan simpatik. Dia gak berkata apa-apa. Dia menatap gwe seperti tau kalo gwe ada masalah. Gwe sama sekali gak akrab dengan perempuan ini. Gwe bahkan gak inget kapan gwe pernah ngobrol sama dia panjang lebar. Dan pada suatu titik, ketika gwe menatap langit abu-abu, gwe mengatakan dengan lirih, “gwe lagi kacau..”. Dia menjawabnya, “gwe tau kok, Naz.” Lalu kami mengobrol di bawah langit gloomy, yang ia akhiri dengan senyum yang sama dan beberapa tepukan bahu yang lembut. Gwe jadi merasa punya energi lagi.
Tidak mengatakan kalau hanya dua itu saja yang pernah menyentuh gwe dengan senyumnya, namun keduanya adalah yang paling tidak gwe duga, serta ingatannya nempel kuat di kepala gwe.
Senyuman yang menenangkan itu, sebuah talenta kah?