Filed under Ignaz dan Dansa

Balada Ignaz dan Dansa: Episode 4

Lama gak update soal perdansaan.

Penampilan pertama gwe di Career Expo UI yang lalu tidak bisa dibilang bagus. Dua gerakan gwe lupa, dan pas klimaks Patrez yang lupa. Kacau. Sialnya (atau untungnya?) Syah kebetulan gak ngambil banyak gambar bagian saat kesalahan itu terjadi.

Saat ini gwe sedang jatuh cinta dengan Tango Argentino. Figurnya, gerakannya, feel-nya, musiknya, dan kesannya begitu memikat gwe. Bahkan on screen pun tango terlihat benar2 oke (lupakan tango di Petulangan Sherina yang merusak kesan pertama gwe). Sexy, romantic, and dramatic. I’ll put it on my screen one day.

Balada Ignas dan Dansa: Episode 3

“Kalau kalian hafal, bener, kalian tampil.”

Status gwe
Chacha: istilah2nya gak pernah tahu.
Jive: baru belajar 4 gerakan.

Keduanya berkoreografi asing.

Besok datang kerjaan baru.

Hmm…

Tagged , ,

Balada Ignaz dan Dansa: episode 2

Satu hal paling mengesalkan dari dansa baru saja gwe temukan hari sabtu kemarin.

Tiap hari sabtu, Dansa UI mengadakan latian di rumah Mami. Nah, di sini baru enak, sepi jadi latiannya bisa lebih konsen dan gak bikin mencak2 kayak di kampus. Gwe masih make sepatu Converse gwe satu2nya itu, karena emang kaga ada sepatu lemes lainnya. Sewaktu mondar-mandir dapur-luar gwe liat ada sepatu dansa nganggur. Gwe coba lah itu dan kebetulan pas.

Jrit! Licin! Haknya tinggi, sampe berasa jinjit! Dan semua gerakan standar chacha yang baru gwe pelajarin seminggu itu buyar karena gwe OLENG gak bisa jaga keseimbangan. Apalagi gerakan balik kanan-kiri grak itu (yang tetep aja belum tau cara nulisnya).

Make itu 5 menit, langsung pegel. Gwe tanya si empunya sepatu, Daniel, berapa tingginya nih hak. 5-6cm katanya.

Jiro hanya meringis dan berujar, “kalo itu dilepas, lebih pegel lagi.” Tak tahu maksudnya, gwe lanjutkan latian hingga betis tak kuat lagi, dan gwe lepas tuh sepatu.

Dan itu membuat gwe ngerti. Pegelnya berlipat2. Jalan sampe bungkuk2 geje. Tantangan baru, gwe mesti biasain diri nih. Gwe mesti beli sepatu maksiat ini!

Browsing.

Nemu info yang ditulis anak Dansa UI juga di blog Dansa UI pula, dan cuma itu satu2nya info. Salut.

Pasar Baru, dia nyebutin dua toko, gwe samperin dua2nya gak ada sepatu dansa cowok.
Hari yang sama, langsung cabut ke Glodok. Ada di dua gedung, Gloria dan Chandra. Namun karena Gloria abis kebakaran-yang kebetulan pas kebakaran gwe juga di sana bareng Patres yang niat nyari sepatu waktu itu buat tampil di Display UKM-jadilah kita masuk ke Chandra.

Di dua toko yang disebut di blog itu, gak ada sepatu cowok. Muter2 lagi, lama mampir di toko sepatu standar, dan nemu pantofel yang agak lentur dikit. Kalo encik2 yang punya toko gak teriak pas gwe nyoba langkah2 chacha, “Itu sepatu gak bisa buat dansa!” Gwe dah beli tuh.

Agak putus asa gwe keluar dari toko itu tanpa beli apa2

Cek lagi hape, liat informasi lain. Ada tulisan yang keluputan ternyata, yang berbunyi: satu toko di Gloria pindah ke Chandra dekat eskalator turun. Kita carilah.

Di depan eskalator turun lantai satu itu emang ada toko sepatu, tapi standar semua. Dah mulai putus asa saat gwe berjalan ke belakang toko itu, dan pandangan gwe teralihkan oleh sepatu pantofel lancip yang dipajang di raknya, bertuliskan “dance shoes” di alas dalam sepatunya.

AHA!

Dan itu memang ternyata salah satu toko sepatu pindahan dari Gloria. Enciknya dah kenal dengan anak2 Dansa UI, dan dia menyambut kami dengan baik.

Dia pesan, “Kasih tahu teman2 ya, kami pindah ke sini.”

Dan sepatu dansa pria yang kini bertengger di tangga kamar gwe ini ia beri harga Rp. 125.000,-

Dukung dia, kawan. Kasian tokonya ikut kebakar di gedung lama. :]

Dan gwe masih tetep benci sepatu yang haknya tinggi tanpa kewajiban ini. Untung gak setinggi haknya Daniel.

Tagged , , , ,

Balada Ignaz dan Dansa: episode 1

Minggu lalu saya mencoba nyemplung ke kolam dansa. Mencoba berenang di arus yang sudah kuperkirakan keras itu. Awalnya malas didesak patres, tapi kemudian hal itu berubah jadi tantangan ngehe yang bikin greget.

Diawali chacha dengan nama2 istilah gerakan yg kaga tau tulisan maupun artinya macam nyuyok, hentuhen, quick basic, head n shoulder, ander arm, skuter, almanak, natural talk, back apa itu, dll…

Diajarin jiro lupatmo, lumayan oke, tp kemudian lupa lagi. Si om jg ngajarin, tp blum dapet2 juga. Terlambat datang bulan nih..

Jrit! Dari awal gw tau dansa itu tidak mudah, tapi tak pernah gw sangka2 belajar dansa itu bikin frustrasi beraddhh. Sampe triak2 stres di tengah2 lat.

Liat nanti lah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers