Sore itu aku berada di bandara. Berjalan menyusuri terminal 1 dan 2, dari ujung ke ujung. Aku tidak masuk, aku tidak mau ke mana-mana kok. Sambil berjalan dan meminum coklat dari salah satu gerai makanan cepat saji, aku memperhatikan tiap perilaku yang ada di sana.
Dari antara terminal 1 dan 2, aku paling menyukai terminal 2, terminal penerbangan internasional, khususnya lantai bawah bagian Kedatangan. Bagiku terminal internasional lebih dramatis dibanding domestik, karena di sini terjadi perpisahan yang menjauhkan mereka antar samudera dan kedatangan yang telah lama rindu-dendam menunggu.
Air mata hiasannya.
Hari itu aku memperhatikan seorang perempuan berusia duapuluhan tahun keluar dari gerbang, menoleh kiri dan kanan, hingga matanya bertumpu pada satu sosok yang kemudian ia songsong dan peluk sangat erat, seperti ingin melebur saja jadi satu. Mereka tidak saling berkata-kata. Jiwa mereka yang kosong sedang saling mengisi, limbahnya air mata dan deras kecup.
Ada juga seorang laki-laki yang bergitu keluar dari gerbang langsung dikeroyok oleh orang-orang yang lama tidak berbaku hantam dengannya, katanya dendamnya belum terbalas. Akhirnya mereka semua dibawa oleh satpam ke kantor.
Ada juga seorang remaja perempuan yang dijemput oleh ibu cerewetnya, langsung dicecar dengan berbagai macam pertanyaan dari masalah visa hingga pembalut, tak memedulikan anaknya yang lelah akibat perjalanan sangat jauh.
Ada juga rombongan penunggu yang begitu melihat seseorang keluar dari gerbang, mereka berteriak kompak, “OLEH-OLEH!”
Ada seorang suami yang baru pulang kuliah di mancanegara, dijemput oleh istri dan anak-anaknya yang masih balita. Suami itu langsung mengecup dahi istrinya dan bermain-main berdendang bersama anaknya yang pindah ke pelukannya. Dia lupa lelahnya, keluarganyalah energinya, jiwanya, tempat ia pulang.
Selain itu ada turis yang dijemput pemandunya, penyelundup ganja yang ditunggu kawan kriminalnya, serta teroris yang ingin mencari pengantin.
Lalu aku beranjak ke terminal bagian atas terminal 2, terminal keberangkatan. Seperti biasanya, terminal keberangkatan diliputi kesedihan, walau tak jarang kegembiraan juga. Di sini para pengantar melepaskan orang yang berharga untuk terbang ke dunia luar, para pengantar dan perantau mengabadikan momen-momen mereka dalam rekaman foto maupun video, saling memberikan kenang-kenangan, bersalaman, dan peluk serta tangis. Orangtua akan memberi banyak wejangan yang tidak sekadar “jaga diri baik-baik nak”. Isak tangis sahabat perantau pun tak jarang membuat ia berat untuk pergi, tapi pesawat tak mau menunggu. Melesatlah mereka ke angkasa.
Sebentar aku berada di dalam, tak kuat dengan aura kesedihan ini, aku keluar. Saat itu pukul 18.14, aku melihat seorang laki-laki yang menggunakan jaket katun bertudung, tudungnya menutup kepalanya. Ia bersandar lemah pada sebuah tiang, tangan kirinya menempel di dadanya dan tangan kanannya meremas palang pagar di depannya. Ia menunduk, membuatku tak mampu melihat wajahnya yang tertutup tudung. Tubuhnya bergetar, tidak, sesenggukan. Sekilas aku berhasil melihat ke kedua matanya saat sejenak ia mengangkat wajahnya dan menerawang ke dalam terminal melalui tembok kaca, matanya mencari, matanya berkaca-kaca. Tangannya bergerak memasuki kantung celananya mengeluarkan sebungkus rokok dan membakarnya. Terlihat jelas ia bergetar saat ia hembuskan jauh asap rokok itu dari paru-parunya. Ia menahan air matanya.
Aku melihat matanya yang berhasil menangkap sesosok perempuan yang sedari tadi ia cari, mata penuh harap. Ia menunduk lagi, meringkuk, dan jatuh pada lututnya yang lemas. Kini ia terduduk, bersandar di tiang dan pagar. Asap yang ia hembuskan membentuk kegetiran.
Aku berjalan mendekatinya.
“Mengapa kamu ada di sini?” sapaku, yang tidak bisa sebenarnya disebut kata sapa.
Dia tidak menjawab. Sibuk dengan kepulan asapnya. Napas mulai teratur. Ia berdiri lagi, berusaha menerawang lagi ke dalam, mencari.
“Kenapa kamu tidak masuk ke dalam mengucapkan salam perpisahanmu?”
“Kenapa?” katanya, “Karena dia akan keluar mengucap salam perpisahan.” Dia berusaha tersenyum.
Baguslah, pikirku.
“Jam berapa dia akan pergi?”
“Jam 7.” jawabnya. Tiba-tiba ia bergetar, memegang mulutnya, bulu kuduknya berdiri, menahan apa yang ingin keluar dari lambungnya, matanya merah berlinang. Ia menghisap lagi rokoknya. Semenit kemudian gejolaknya berhenti. Napasnya teratur lagi. Namun tangan kirinya masih menekan dadanya.
“Kutemani kamu di sini,” kataku, “Siapa namamu?”
“Bragi.”
“Dia pacarmu?”
“Sahabat.”
“Sepuluh menit sudah kamu di sini, tidakkah kamu perlu masuk dan mengucapkan salam perpisahan untuk sahabatmu?”
“Tidak. Dia yang butuh untuk keluar.”
Walau dia bilang begitu, aku tidak melihat gelagat seperti itu dari sosok yang dari tadi dia pandangi. Seperti banyak perantau lainnya, dia sibuk mengabadikan keberadaannya bersama orang-orang dekatnya lewat foto. Bagaimana dengan orang dekatnya yang kini berada di sampingku?
“Sebentar lagi dia masuk, Bragi.”
“Sebentar lagi dia keluar.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Bercerita. Tentang aku dan dia,” tiba-tiba air matanya mulai menetes tak terbendung, “Tentang hari pertama kita berkenalan di kelas satu, saat kita frustrasi bersama menghadapi tugas MOS yang berat, saat aku menanyakan banyak pelajaran yang aku tidak mengerti, saat aku kehilangan kartu perpustakaanku, saat kita berdua bersama bermain drama sekolah, saat aku bertemu dengan.. Aditi, saat ia mendekati Aditi untuk mencomblangiku, saat ia membantuku mencari buku-buku di perpustakaan, saat ia melemparkan telur busuk, saat aku ulangtahun dan menyiramku, saat aku berantem dengan Aditi dan dia menjadi tempat sampahku, saat malam hingga subuh aku mengganggu tidurnya lewat telepon berbicara hal-hal tak penting, tentang cita-citanya, tentang orang yang kini mencintainya, tentang…”
“Bragi, maaf, tapi sebaiknya kamu mengejar dia sekarang. Dia sudah masuk.”
“Tentang… banyak hal yang belum kuceritakan dan dia ceritakan, tentang…” suaranya semakin parau. Kepalanya semakin menunduk, dan kini air matanya tumpah ruah sudah.
“Tentang waktu 30 menit yang katanya ingin dia luangkan buatku..”
Kini kepalanya menempel ke palang pagar. Racauannya tentang “tentang” masih berlanjut tanpa bisa kudengar satu “tentang” pun.
Tapi satu hal masih sanggup kudengar, tentang tak mampunya ia menjadi sahabat yang baik.
Tudung itu basah air mata penyesalan.