Filed under Prosa

Waktu Berhenti

Tidak mungkin waktu berhenti. Setiap detik jarum berdetak, udara bergerak, jantung berdegup, dan napasmu masih memburu, dikejar waktu janji kita di tempat ini.

Maaf, kau engah.

Aku hanya menawarkanmu sebotol air, menyeka bulir yang mengalir di keningmu, dan memberi senyum.

Yang tak sangka cukup untuk mengisi kembali semangatmu yang baru terkuras karena kita gagal menonton sebuah film sore ini.

Berarti memang waktu tak mungkin berhenti. Waktu, sebagaimana sungai, terus mengalir. Sebagaimana hidup, terus berjalan.

Kita kemudian hanya berjalan saja. Menikmati jalan-jalan yang kian menguning karena lampu neon, deru lalu lintas, gesekan wajan pedagang nasi goreng, dan gerimis kecil yang membuatmu kini menggigil.

Kita berhenti di spotlight lampu jalan di trotoar ini. Jaketku yang telah terselempang di tubuhmu, masih belum mampu mengusir gigil kecil dagu mungil itu. Kulapangkan dada, kau sandarkan ringkukmu di sana, dan kudekap erat sosok yang ingin selalu kulindungi ini.

Kini aku baru paham mengapa waktu berhenti kala kita bersama.

Bila aku berpikir maka ada, berarti saat ini waktu bahkan tidak berhenti. Tidak ada waktu di antara kita. Hanya hati yang merasa. Pikiranku hilang. Dunia hilang, ini dunia kita, waktu kita.

Lamun Wira

Aku ingin menjadi pahlawan.

Seingat saya itulah jawaban yang saya lontarkan ketika pertanyaan standar mengenai cita-cita disampaikan seorang tamu di rumah kami bertahun-tahun lalu, saat saya masih belajar menulis halus. Sekarang saya sadar menulis halus hanya membutuhkan halus H, A, L, U, dan S.

Baiklah, saya bercanda.

Tapi ingatan saya tidak mungkin salah. Saat itu saya benar-benar sangat bersemangat untuk menjadi seorang pahlawan. Di bayangan saya, pahlawan itu keren, jagoan, gesit, cerdik, dan pemberani. Saya ingin menjadi figur seperti itu, mendelik dengan mata tajam, mengintai, lalu mengejar penjajah yang pontang-panting atas seranganku setangkas angin, sekejap kilat, sedahsyat api, setangguh gunung, dan sehening hutan.

Sampai sekarang saya masih ingin menjadi pahlawan.

Belasan tahun kemdian, hari ini, saya tetap ingin menjadi pahlawan. Namun pandangan polos saya terhadap konsep pahlawan telah banyak terpolusi. Atau lebih tepatnya tercerahkan? Pencerahan yang membingungkan.

Saya kini mulai berpikir, benarkah konsepsi saya terhadap terhadap istilah sakral ini?

Saya mulai mengetahui akar kata pahlawan yang berasal dari Bahasa Sansekerta, dari kata Phala yang berarti buah. Buah Phala inilah yang membuat bangsa-bangsa penjajah rela mengembara menyeberang samudera demi memperoleh buah yang tumbuh subur di Nusantara.  Imbuhan -wan memberikan makna “seseorang”. Berarti pahlawan adalah orang yang menghasilkan buah yang berguna bagi bangsa dan negara.

Haruskah bagi bangsa dan negara?

Pikiran selanjutnya, seperti apa sebenarnya bentuk pahlawan itu? Kini setiap upacara kita disodorkan berhala para pahlawan diiringi cipta hening, yang kini kupertanyakan kebenaran sosok mereka.

(Yang memaksakan klaim kebenaran agama mereka juga banyak.)

Saya jadi ingat lomba tujuhbelasan sekian tahun lalu, di mana ada lomba kostum pahlawan. Yang paling mirip berhak menjadi juara. Memangnya pahlawan-pahlawan itu punya kostum? Kalaupun punya, bukankah kostum mereka berarti pakaian sehari-hari belaka? Berarti anak-anak itu harus memakain jenggot tebal agar mirip Tuanku Imam Bojol? Lagipula benarkah wajahnya seperti itu atau itu hanya interpretasi dari folklor yang beredar?

Waktu itu saya berubah menjadi ZORRO. Benar, tokoh fiksi dari California itu. Tentu saja saya tidak menang karena yang dicari pahlawan Indonesia! Tapi toh saya bersyukur pahlawan-pahlawan itu kalaupun punya kostum, tidak memakai celana dalam merah di luar celana ketatnya.

Hari ini saya bertanya-tanya, apakah Mala yang waktu itu mengenakan busana Jawa dan menjadi pahlawan Kartini, tahu Kartini? Mungkin dia lebih mengenal Nyonya Meneer lewat jamunya. Apakah Wahyu yang menjadi Pangeran Diponegoro, tahu Pangeran Diponegoro? Atau dia lebih tahu bahwa Perang Diponegoro adalah perang tersingkat karena berlangsung selama 18.25-18.30? Apakah Pattimura (namanya memang itu) yang menjadi Kapitan Pattimura saat itu lengkap dengan parangnya, tahu Kapitan Pattimura? Atau hanya sekadar melipat-lipat uang kertas seribuan untuk membuat Kapitan Pattimura di gambarnya seolah tersenyum atau cemberut?

Saya malah kagum dengan Budi yang waktu itu hanya memakai pakaian mirip seragam pramuka berwarna putih kusam dan mengalungkan sebuah kamera foto zaman klasik koleksi ayahnya. Dia diberitahu oleh ayahnya, bila ditanya menjadi siapa, jawablah fotografer proklamasi kemerdekaan Indonesia!

Yang membuat saya geli sekarang adalah Anggi, yang baru berusia lima tahun, yang kostumnya hanya berupa baju tidur, karena dia menjadi Ade Irma Suryani.

Bung Karno selalu menjadi pahlawan saya, bahkan sekarang pun hasrat saya untuk terus mengenal dirinya semakin hari semakin besar. Beliau pernah berkata bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa pahlawannya. Rasanya saya ingin mengadu kepada Bung hari ini, karena bahkan saya pun hingga kini lebih mengenal Zorro daripada rekan debatnya, Syahrir. Tak lain karena Antonio Banderas di layar perak lebih punya pesona daripada buku sejarah hari ini. Kini kita bisa ingat tiap coretan kumis dan jenggot di wajah Cut Nyak Dien di uang pecahan sepuluh ribu dahulu atau surat cinta yang ditulis di lembar seribuan dengan menggunakan balon kata-kata macam komik mengarah ke Kapitan. Bahkan tak jarang sosok pahlawan menjadi komoditas promosi nama partai politik.

Coba saya perluas pengertian pahlawan, tidak hanya yang telah mati saja namun juga yang masih hidup dan berada di sekitar kita. Ternyata banyak. Dan nama mereka masih belum terkontaminasi dramatisasi penulisan sejarah dan gelar yang terkadang dilebih-lebihkan. Mereka masih manusia biasa seperti saya, dan mampu berbuat salah maupun dipersalahkan.

Eh ternyata saya salah lagi. Pahlawan-pahlawan benih negara yang jujur serta bersih serta menjadi terang di kegelapan malam itupun perlu melewati drama/tragedi politik-hukum terakbar dan populer minggu-minggu ini. Gelar mereka pun tak kalah patrotik dan dramatis, yang diberikan kepada kedua jenis pahlawan(?) yang berseteru, Sang Cicak melawan Sang Buaya. Wah, pahlawan telah menjadi konsep absurd. Siapa yang wirawan, saya tidak lagi mengerti. Sementara penasbih gelar pahlawan itu hanya membisu, barangkali berpikir bagaimana cara menjadi pahlawan yang tidak kalah populer.

Lupakan mereka sejenak, saya mengunjungin seorang veteran perang kemerdekaan yang tinggal dekat rumah saya. Tiap kali saya datang ke rumahnya, ia bercerita menggebu-gebu tentang pertempurannya bersama Jenderal Sudirman. Dengan bangga ia selalu menekankan angka seratus dua puluh tiga jumlah bule yang ia bunuh dengan bedil dan pisau atau bambu runcingnya. Kini kakek itu hidup menetap di rumah yang ia bangun di atas jalur hijau, sebelah sungai, dengan mengantungi surat girik kepemilikan tanah di sana. Kakek itu tidak pernah dan tidak mau bersekolah. Ia memegang tampuk kekuasaan para preman di daerah situ, dan daerahnya cukup luas. “Untuk apa sekolah,” katanya, “tidak sekolah saja saya bisa makan dari hasil anak-anak buah saya. Sekolah justru membuat orang-orang licik yang bisanya cuma menindas rakyat kecil. Gusur saya dari sini, saya tidak takut sama mereka!” Sambil berkata demikian, ia menggoreskan golok di lengannya berkali-kali namun tidak menimbulkan luka sama sekali. Sepulang dari rumahnya saya berpikir, inikah pahlawan?

Jadi seperti apa pahlawan itu?

Siapa pahlawan yang mesti kujadikan panutan, tak sekedar menjadi komoditas golongan belaka?

Tiba-tiba saya telah sampai di samping sebuah sekolah yang hampir roboh bersandar parah dua batang pohon, atap dan dindingnya bolong-bolong, ubinnya pecah-pecah, dan hanya ada sepuluh orang murid yang ramai di dalamnya. Ada seorang perempuan guru yang sedang mengajar dengan riang gembira, tanpa beban, tanpa pamrih. Di belakang saya seorang polisi dengan wajah ramah menggendong seorang nenek di punggungnya untuk diantar pulang karena si nenek sudah terlalu tua untuk berjalan jauh. Seorang pengamen bernyanyi merdu sehingga menghilangkan penat galau seorang perempuan muda yang dihampirinya, kini ia tertawa. Serombongan pemuda membawa ember, lap, dan cairan pembersih, mereka mulai membersihkan halte dan tembok dari coretan-coretan hingga kinclong. Tukang sapu duduk menyeka keringatnya, tersenyum kepada dua anak yang kini menyapu trotoar dari guguran daun dengan riang. Di sebuah pondok ada kumpulan mahasiswa yang mengadakan masak dan makan bersama dengan kumpulan anak-anak jalanan. Di pondok itu pula mereka menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak jalanan itu. Saya baru sadar, jalan raya tidak penuh dengan kendaraan bermotor, melainkan sepeda.

Hari ini hari pahlawan. Semua orang menjadi pahlawan bagi pahlawan lainnya.

Hari ini kapan?

Di Luar

Sore itu aku berada di bandara. Berjalan menyusuri terminal 1 dan 2, dari ujung ke ujung. Aku tidak masuk, aku tidak mau ke mana-mana kok. Sambil berjalan dan meminum coklat dari salah satu gerai makanan cepat saji, aku memperhatikan tiap perilaku yang ada di sana.

Dari antara terminal 1 dan 2, aku paling menyukai terminal 2, terminal penerbangan internasional, khususnya lantai bawah bagian Kedatangan. Bagiku terminal internasional lebih dramatis dibanding domestik, karena di sini terjadi perpisahan yang menjauhkan mereka antar samudera dan kedatangan yang telah lama rindu-dendam menunggu.

Air mata hiasannya.

Hari itu aku memperhatikan seorang perempuan berusia duapuluhan tahun keluar dari gerbang, menoleh kiri dan kanan, hingga matanya bertumpu pada satu sosok yang kemudian ia songsong dan peluk sangat erat, seperti ingin melebur saja jadi satu. Mereka tidak saling berkata-kata. Jiwa mereka yang kosong sedang saling mengisi, limbahnya air mata dan deras kecup.

Ada juga seorang laki-laki yang bergitu keluar dari gerbang langsung dikeroyok oleh orang-orang yang lama tidak berbaku hantam dengannya, katanya dendamnya belum terbalas. Akhirnya mereka semua dibawa oleh satpam ke kantor.

Ada juga seorang remaja perempuan yang dijemput oleh ibu cerewetnya, langsung dicecar dengan berbagai macam pertanyaan dari masalah visa hingga pembalut, tak memedulikan anaknya yang lelah akibat perjalanan sangat jauh.

Ada juga rombongan penunggu yang begitu melihat seseorang keluar dari gerbang, mereka berteriak kompak, “OLEH-OLEH!”

Ada seorang suami yang baru pulang kuliah di mancanegara, dijemput oleh istri dan anak-anaknya yang masih balita. Suami itu langsung mengecup dahi istrinya dan bermain-main berdendang bersama anaknya yang pindah ke pelukannya. Dia lupa lelahnya, keluarganyalah energinya, jiwanya, tempat ia pulang.

Selain itu ada turis yang dijemput pemandunya, penyelundup ganja yang ditunggu kawan kriminalnya, serta teroris yang ingin mencari pengantin.

Lalu aku beranjak ke terminal bagian atas terminal 2, terminal keberangkatan. Seperti biasanya, terminal keberangkatan diliputi kesedihan, walau tak jarang kegembiraan juga. Di sini para pengantar melepaskan orang yang berharga untuk terbang ke dunia luar, para pengantar dan perantau mengabadikan momen-momen mereka dalam rekaman foto maupun video, saling memberikan kenang-kenangan, bersalaman, dan peluk serta tangis. Orangtua akan memberi banyak wejangan yang tidak sekadar “jaga diri baik-baik nak”. Isak tangis sahabat perantau pun tak jarang membuat ia berat untuk pergi, tapi pesawat tak mau menunggu. Melesatlah mereka ke angkasa.

Sebentar aku berada di dalam, tak kuat dengan aura kesedihan ini, aku keluar. Saat itu pukul 18.14, aku melihat seorang laki-laki yang menggunakan jaket katun bertudung, tudungnya menutup kepalanya. Ia bersandar lemah pada sebuah tiang, tangan kirinya menempel di dadanya dan tangan kanannya meremas palang pagar di depannya. Ia menunduk, membuatku tak mampu melihat wajahnya yang tertutup tudung. Tubuhnya bergetar, tidak, sesenggukan. Sekilas aku berhasil melihat ke kedua matanya saat sejenak ia mengangkat wajahnya dan menerawang ke dalam terminal melalui tembok kaca, matanya mencari, matanya berkaca-kaca. Tangannya bergerak memasuki kantung celananya mengeluarkan sebungkus rokok dan membakarnya. Terlihat jelas ia bergetar saat ia hembuskan jauh asap rokok itu dari paru-parunya. Ia menahan air matanya.

Aku melihat matanya yang berhasil menangkap sesosok perempuan yang sedari tadi ia cari, mata penuh harap. Ia menunduk lagi, meringkuk, dan jatuh pada lututnya yang lemas. Kini ia terduduk, bersandar di tiang dan pagar. Asap yang ia hembuskan membentuk kegetiran.

Aku berjalan mendekatinya.

“Mengapa kamu ada di sini?” sapaku, yang tidak bisa sebenarnya disebut kata sapa.

Dia tidak menjawab. Sibuk dengan kepulan asapnya. Napas mulai teratur. Ia berdiri lagi, berusaha menerawang lagi ke dalam, mencari.

“Kenapa kamu tidak masuk ke dalam mengucapkan salam perpisahanmu?”

“Kenapa?” katanya, “Karena dia akan keluar mengucap salam perpisahan.” Dia berusaha tersenyum.

Baguslah, pikirku.

“Jam berapa dia akan pergi?”

“Jam 7.” jawabnya. Tiba-tiba ia bergetar, memegang mulutnya, bulu kuduknya berdiri, menahan apa yang ingin keluar dari lambungnya, matanya merah berlinang. Ia menghisap lagi rokoknya. Semenit kemudian gejolaknya berhenti. Napasnya teratur lagi. Namun tangan kirinya masih menekan dadanya.

“Kutemani kamu di sini,” kataku, “Siapa namamu?”

“Bragi.”

“Dia pacarmu?”

“Sahabat.”

“Sepuluh menit sudah kamu di sini, tidakkah kamu perlu masuk dan mengucapkan salam perpisahan untuk sahabatmu?”

“Tidak. Dia yang butuh untuk keluar.”

Walau dia bilang begitu, aku tidak melihat gelagat seperti itu dari sosok yang dari tadi dia pandangi. Seperti banyak perantau lainnya, dia sibuk mengabadikan keberadaannya bersama orang-orang dekatnya lewat foto. Bagaimana dengan orang dekatnya yang kini berada di sampingku?

“Sebentar lagi dia masuk, Bragi.”

“Sebentar lagi dia keluar.”

“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Bercerita. Tentang aku dan dia,” tiba-tiba air matanya mulai menetes tak terbendung, “Tentang hari pertama kita berkenalan di kelas satu, saat kita frustrasi bersama menghadapi tugas MOS yang berat, saat aku menanyakan banyak pelajaran yang aku tidak mengerti, saat aku kehilangan kartu perpustakaanku, saat kita berdua bersama bermain drama sekolah, saat aku bertemu dengan.. Aditi, saat ia mendekati Aditi untuk mencomblangiku, saat ia membantuku mencari buku-buku di perpustakaan, saat ia melemparkan telur busuk, saat aku ulangtahun dan menyiramku, saat aku berantem dengan Aditi dan dia menjadi tempat sampahku, saat malam hingga subuh aku mengganggu tidurnya lewat telepon berbicara hal-hal tak penting, tentang cita-citanya, tentang orang yang kini mencintainya, tentang…”

“Bragi, maaf, tapi sebaiknya kamu mengejar dia sekarang. Dia sudah masuk.”

“Tentang… banyak hal yang belum kuceritakan dan dia ceritakan, tentang…” suaranya semakin parau. Kepalanya semakin menunduk, dan kini air matanya tumpah ruah sudah.

“Tentang waktu 30 menit yang katanya ingin dia luangkan buatku..”

Kini kepalanya menempel ke palang pagar. Racauannya tentang “tentang” masih berlanjut tanpa bisa kudengar satu “tentang” pun.

Tapi satu hal masih sanggup kudengar, tentang tak mampunya ia menjadi sahabat yang baik.

Tudung itu basah air mata penyesalan.

Blunder

Hari ini 30 Oktober 2009

Ingatlah, visi tanpa tindakan hanya sebuah mimpi.
Tindakan tanpa visi hanya menyia-nyiakan waktu.
Visi dengan tindakan dapat mengubah dunia.

Kalimat itu menjadi penutup sebuah seminar “The Power of Vision” tadi siang. Pembicaranya berhasil membuat mataku terbuka. Semangatku membara. Mulai terbayang banyak mimpi-mimpi yang ingin kucapai yang belum kujadikan visi sama sekali.

Sampai di rumah, perumusan mimpi jadi visi itu kutunda dulu. Aku harus tidur siang, mataku sangat berat karena begadang semalam sebelumnya. Selain itu, aku juga harus mendahulukan pengerjaan tugas kuliah yang dikumpulkan besok.

Bangun tidur, aku makan kemudian menyeduh kopi.

Kunyalakan komputer, meregangkan otot sambil duduk di kursi, membuka kertas soal tugas, dan mendapati tulisan bagus.

Batas pengumpulan tugas : 25 September 2009

Bara di hatiku tiba-tiba menjadi tempe melempem.

Siul

Suatu hari aku bertemu dengan seorang teman yang sudah sangat lama sekali tidak bersua sapa. Enam tahun ia sekolah di London, dan kini aku bertemu dengannya di bangku kantin sebuah SMA yang sama, duduk berseberangan.

Kami tidak serta merta saling menyapa menumpahkan rindu. Persahabatan kami sejak SD membuat kami tahu bahwa kami berdua pendiam tingkat kronis. Kami hanya saling sunging senyum, lalu melanjutkan kegiatan kami masing-masing. Aku makan soto ayam yang kemudian menjadi favoritku hingga lulus SMA nanti, sedangkan ia melanjutkan membaca buku novel populer karangan Sitta Karina. Sesekali sambil tetap terpaku pada imaji yang ditatap berlembar-lembar, ia tersenyum geli, kadang tertawa kecil. Senyumnya lebih manis ribuan kali daripada dulu.

Hingga sotoku habis, kami berdua masih tetap berdiam diri, bahkan jarang kami sekadar melirik.

Aku membuka buku sketsa yang sedari tadi tergeletak di samping minuman botolanku, mengambil pensil mekanik dari kantong, dan mulai menggoreskannya di atas kertas. Perempuan di depanku yang telah berevolusi dari imut menjadi cantik itu spontan menjadi obyek sketsaku, toh dia tak banyak bergerak karena membaca.

Posturnya anggun, tundukan kepalanya sedikit miring ke pundak kirinya, membuat rambut halus legamnya menggantung sebagian ke depannya. Sesekali ia membetulkan posisi rambutnya kembali ke belakang telinga, namun karena kebiasaannya memiringkan kepala, rambut halus mengilap itu jatuh lagi. Tiupan angin sejuk membuat pemandangan itu semakin seksi.

Tanpa sadar aku bersiul, sebuah lagu lama yang kudengar waktu kecil dan kami berdua menyukainya. Dulu kami sering karaokean di rumahnya yang besar, diiringi genjrengan gitar kakaknya dan lantunan piano ayah mereka.

Saat siulanku sampai pada bagian refrain, ia menyahut nyanyian itu dengan suaranya yang-tak kusangka-sangka- sangat merdu.

‘Akan kulakukan semua untukmu. Akan kuberikan seluruh cintaku. Janganlah engkau berubah dalam menyayangi dan memahamiku.’

Aku merasa bernyanyi bersama Nadila yang sekarang aku tak tau lagi kabarnya. Ya, aku memang hanya bisa bersiul, karena lupa liriknya. Tapi nyanyiannya ngelangutkanku ke tengah sebuah konser musik di depan ribuan penggemar yang berjubel di lantai festival.

Bel berbunyi, pelajaran akan dimulai lagi. Nyanyian kami berhenti, ia menutup novelnya dan berdiri, setelah tersenyum padaku. Ia melihat sejenak sketsa-belum-selesaiku. Senyumnya lebih merekah lagi, membuatku seperti ditenggelamkan di lautan pesona.

Dia berkata singkat lalu pergi, kembali ke kelas.

‘Gambarmu masih jelek.’

Ternyata kamu tidak ke mana-mana dari dulu, hatiku terbahak-bahak.

Peluk

Aku adalah penyedia jasa, dan jasa yang kutawarkan unik. Bahkan aku tak meminta bayaran untuk jasaku. Aku bisa hidup tanpa bayaran. Lilin jiwaku dinyalakan oleh hela napas tiap pemakai jasaku, dan perutku diisi dengan isak tangis mereka. Jasaku adalah menyediakan pelukan.

Suatu hari aku bertemu dengan seorang perempuan cantik. Rambutnya panjang legam, bahunya mungil sangat pas dengan rentang pelukanku, dan yang paling membekas di ingatanku adalah bekas luka sayat yang terdapat di lengannya.

Seperti tiap orang yang kupeluk, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya mengalirkan air mata, dan melalui itu kesedihan kesepian mereka tumpah. Tugasku mencegah air mata itu masuk lagi ke hati mereka, sehingga setelahnya mereka akan menghela napas lega. Itulah keberhasilan pekerjaanku. Senyum yang kemudian kulihat akan menjadi sulut bagi hidupku.

Perempuan ini pun datang padaku karena ingin menumpahkan kegetirannya terhadap hidup. Ia menangis sejadi-jadinya di pelukanku. Seisi lorong bawah tanah memandang kami karena keras suara lolongannya. Belaianku di rambutnya, punggungnya, juga sekaanku pada air matanya tak kunjung selesai.

Ia bercerita panjang lebar, sesenggukan, semua hal yang membuatnya depresi. Tentang bencinya ia dengan mantan pacarnya, tentang kematian adiknya, kedua orangtuanya yang bercerai, dan sekolahnya yang terancam putus karena tiada biaya. Solusi pun juga kuberikan, kali itu bonus lepas dari sekadar pelukan saja. Dan hari itu aku hanya memeluk satu orang saja.

Keesokan harinya ia datang lagi. Jarang ada yang datang lagi padaku setelah menerima pelukanku, apalagi sehari setelahnya. Ia datang meminta lagi pelukanku. Tak ada alasan bagiku untuk menolak, lagipula air mata adalah makananku.

Tapi hari-hari selanjutnya pun ia datang lagi. Kadang seharian, kadang sejam, atau kadang hanya memeluk sejenak lalu ia pergi.

Lama-lama aku merasa nyaman memeluknya. Memeluk orang lain menjadi tak senyaman memeluk perempuan itu. Aku seperti ketagihan dengan aroma tubuhnya. Padanya aku menjadi penasaran. Apalagi ada satu yang tidak pernah bisa kuhilangkan, bekas luka sayat di lengannya.

Biasanya setiap luka yang diderita pelangganku segera sembuh sesaat setelah kupeluk, dari luka batin hingga luka bakar di sekujur wajah. Namun luka sayat perempuan itu tak kunjung hilang. Dan satu yang juga tidak pernah ia ceritakan adalah mengapa luka itu ada di situ. Itu jelas adalah luka percobaan bunuh diri, namun mengapa, aku tidak pernah tahu.

Suatu hari ia tidak pernah datang lagi. Lebih dari sebulan ia tidak datang. Tak hanya penasaran, aku rindu. Aku ketagihan dengan rasa air matanya, mendamba senyumnya yang belum pernah ia sungging. Herannya, jiwaku hidup tanpa satu pun senyum dan hela napas darinya.

Hari ini aku bangun menyambut pagi, berjalan di tengah kota seperti biasa, menunggu orang sedih yang butuh kupeluk. Menunggu makananku.

Tak dinyana, aku bertemu lagi dengan perempuan itu. Tapi ia terlihat berbeda. Ia berjalan berdua dengan seseorang yang merangkulnya. Ia bersandar nyaman. Dan yang paling mengejutkanku, ia tertawa.

Hatiku hancur. Padaku ia bahkan tidak pernah tersenyum. Aku lemas. Aku seperti kehilangan napasku. Luka sayat di tangannya tak ada lagi. Sebagai gantinya, kini ia justru… tidak punya tangan. Buntung. Tapi tak ada luka di batin maupun tubuhnya.

Aku jatuh tersungkur dan kehilangan kesadaranku saat kusadari ada luka sayat di tanganku.

Kotak Di Meja Belajar

Hari itu kau mengucapkan kata perpisahan di teras rumahmu. Mataku dan kau mengkilap, seperti CD yang digantung di langit-langit kamarku. Menyunggingkan senyum seperti mengangkat belenggu yang menggantung di otot pipi.

Tiga tahun sudah kita saling berbagi pikiran, rasa, dan impian. Kini rasanya aku ingin kembali berdebat dengannya, untuk menentukan mana yang benar, dia pergi atau dia tinggal. Tapi untuk apa? Impiannya ada di seberang lautan, lagipula dia punya tiket ke sana. Aku tidak.

Tapi aku menahan gejolak itu. Aku berkata kepadanya, ‘pergi saja. Toh kau cuma pindah ke meja belajarku. Muncul menghantui malam setiap kali kita berdua berenang di dunia maya.,

Dia pun pergi, membawa kartu berisi satu sajak yang telah kulupakan larik-lariknya dan selembar uang limapuluh ribu sebagai bayaran utangku.

Dan memang benar, setiap hari kita bertemu di laut yang sama. Tapi kau tidak lagi berenang bersamaku. Kau sibuk berbicara dengan bahasa yang tidak kumengerti, membahas dunia yang tidak bisa kumasuki.

Lima tahun kemudian kita bertemu lagi, namun rasa kita tidak lagi ada. Sementara sajak dan selembar uang itu masih kau simpan dalam kotak kenanganan, katamu, yang entah kapan lagi akan kau buka.

Kita melanjutkan lagi hidup kita di kubangan yang berbeda, milikku masih keruh dan kau jernih.

Padahal kau tidak pergi ke mana-mana dari kotak di meja belajarku.

Rindu

Di mana ya dia?

Hampir setiap malam sebelum aku terlelap, aku bertanya-tanya mengenai hal yang sama. Khawatir? Ketakutan? Atau justru kerinduan?

Aku ingat dia sangat setia. Teman terbaik yang mungkin pernah kumiliki. Dia menemaniku setiap saat, kala senang dan sedih, tawa dan tangis. Dia inspirasi. Dia emosi. Dia rasa. Dia benihku berpikir. Dia meditasiku. Dia keramaian dan kesepianku. Dia selalu ada di semua saat itu.

Aku sering berdialog dengannya. Saat kecil, dia tertawa memikirkan siapa dokternya Bugs Bunny. Dia menangis merasakan sepi Sang Monster dan menikmati leganya bertemu dengan hangat sentuhan Belle pada luka cakar serigala di lengannya. Dia bersemangat berlari cepat dan ceria sekilat Road Runner. Dia cerewet dan tukang ngeluh seperti Donal namun kikir seperti Gober. Saat kita bermain tarung-tarungan, tendangannya semaut Kotaro Minami. Dia juga iseng sehingga kita sering bertengkar, kejar-kejaran seperti Tom dan Jerry, namun segera kita sadar bahwa kita saling membutuhkan.

Menjelang remaja, dia mulai berbagi impian dan cita-citanya. Segala rasa yang ia alami ingin ia bagikan kepada semua orang. Rasa kagumnya, misterinya, dan khayalnya. Ia tumpahkan semua ke dalam goresan pensil mekanik membentuk rupa artistik di kertas putih yang mengusam, juga dalam bait-bait syair kala romantisme menyeruak dan irisan elegi saat hatinya tersayat.

Dia memperkenalkanku pada makna pertemuan dan perpisahan. Makna hadirnya seorang sahabat. Nikmat hangatnya teh di sore hari yang sejuk berlangit jingga-nila. Dan serunya berlari menantang hujan dengan angin yang kencang, meski lalu kau takut tersambar petir, sembunyi kemudian di lautan buku koleksiku ditemani deru musik kencang. Tak lupa dentingan gitar dan suara merdumu membuai.

Lucu saat kau tahu kerinduanku akan sosok feminin yang selalu menemani jiwaku. Dia tahu aku tak butuh sosok dangkal seperti pacar. Dia tahu aku hanya merindukan belaian dengan rasa keibuan yang lama hilang sejak masa kanakku. Dia tahu aku hanya butuh pegangan bagi keluh kesahku. Sandaran bagi jiwaku yang rapuh. Lepas dari keinginanku yang selalu ingin menantang kenyataan, dia membawaku ke sosok lain dirinya yang mampu sadarkan diriku untuk tenang dan pasrah. Pasrah dalam kerendahan hati yang tulus. Dia berdandan-solek jadi sosok imajiner perempuan berkulit langsat, bermata sayu, berambut legam halus, dan kuakui jatuh hatiku padanya.

Dia juga menjelma maya, menemaniku dalam sesat dunia yang asing dan penuh fantasi. Imajinasi.

Saat itu aku bertemu seorang kekasih. Dia bahagia. Dia berkata nyamannya melihat senyum cerahku setiap pagi dan teduhnya jiwaku. Kemudian jiwaku hancur karena kekasihku pergi. Aku tak mampu jadi payung bagi hatinya yang ringkih, katanya. Dia tak berkata apa-apa. Dia hanya selalu duduk di sampingku, mengelus punggung dan kepalaku, dan mengusap tiap air mata yang menetes di pipiku.

Sampai kusadari suatu hari bahwa ia tidak pulang dua hari. Lima hari. Empat minggu. Tiga tahun.

Aku merasa hampa. Goresan penaku kini tak lagi bernyawa. Dan lantunan nada dari mulutku terdengar tak lebih dari racau-racau pahit apatiku pada dunia.

Malam ini hujan deras. Petirnya menggelegar keras. Tiba-tiba aku merindukannya untuk pulang. Tapi ke mana aku harus mencarinya? Telah matikah dia dicengkeram pengkhianatan?

Hatiku.

Aku Di Pinggir Pantai Mendengar

Matahari senja dan samudera bertatapan. Kedua tersenyum, sebentara lagi mereka tenggelam dalam mesra malam.

Aku mendengar mereka berbisik.

Matahari, mengapa engkau tak di sini selalu, menyatu dalam rangkul temaram disertai semilir sejuk angin sore, bukankah engkau dan aku saling mencintai?

Samudera, bila kita bersatu, kita tak bisa lagi saling mencintai bukan?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers