Filed under Puisi

Tak Perlu Dibaca

Kepedean

Siapa juga yang mau baca?
Pentingnya apa untuk dibaca?

Tak lebih dari untaian bit data yang terketik
Tak lebih dari rangkaian huruf belaka

Aku tak punya nyawa lebih untuk kuhembuskan kepada tiap tuturku
Menurutmu sadar atau tidak

Bait ini seperti lalu lalang sepeda motor yang membanjiri jalan-jalan Jakarta
Sekelas CBR, namun apa artinya bisa tersaput debu, sama dengan yang lain

Tak perlu dibaca
Rasakan saja (kalau ada waktu)

Waktu ada kalau saja kau rasa
Waktuku, baitku, rasaku padamu

2011 – 03 – 17

Karaoke

Karaoke tidak hanya sekadar bernyanyi
mengikuti alunan lagu minus vokal
yang telah disediakan syairnya di layar,
melainkan lebih dari itu.

Keramaian teman-teman
Joget bersama
Bergoyang mengikuti irama
Atau jaimnya beberapa insan

Ironisnya selera kita
Saat sehari-hari menghujat
Top 40 lagu label mayor kampungan
Toh kita nyanyikan juga di sana

Teriakan-teriakan itu
Tak mau kalah dengan penguasa mic
Apalagi dengan speaker
Suara habis minimal serak

Hembusan asap rokok
Dari tiap pengepulnya
Tambah bikin suara habis
Kabutnya bikin mata sakit

Kita seperti terbius alunan nada
Atau apa yang kita hirup di paru-paru?
Atau temaram cahaya yang kita atur?
Atau batas waktu dan doku yang tersedia?

Aku Tahu

Aku tahu

Mungkin kamu tahu

Tapi kurasa tidak

Sama sepertimu yang tak membuka topeng berkaratmu di depan wajah telanjangku yang koyak,

Aku diam

Melihat kalian aku jadi ingin memakai topeng.

Hanya aku tidak punya yang berkarat.

Aku tidak suka topeng.

Kujahit bibirku.

Kalau Saja Hati Punya Pintu

Di dalam hatimu aku akan mengunci diri

Kunyalakan lilin biar terang

Biar hangat relung-relung itu

 

Di dalam hatimu aku akan rebah.

Tidur, telentang, telungkup

Meringkuk nyaman

 

Di dalam hatimu akan akan ukir

Nama kita berdua

Mimpi dan surga kita

 

Kalau saja hati punya pintu

Aku terpenjara di sini

Tanpa kau

 

-LBIF18 20091127 1.30PM

Tagged
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,304 other followers