Gak percaya kalo ada yg bener2 ikhlas tanpa ada perasaan ganjel sedikitpun, saat ada orang siapapun itu yang minta bantuan karena benar2 membutuhkannya hanya dari kita, lalu dia pergi ngilang gitu aja pada saat kita sedang berusaha menolongnya dan udah banyak usaha yang udah kita lakukan walau belum selesai kita lakukan.
Kalimat yang panjang dan terlalu majemuk..
Cerita ini mengandung unsur menjijikkan, yang tidak tahan jijik, harap tidak membacanya.
***
Hari sabtu yang lalu, setelah saya mandi dan memakai pakaian pergi, saya duduk di sofa kamar sembari online lewat hape. Saat itulah saya menyadari sesuatu yang aneh, tidak biasa. Ada bau sesuatu. Saya mencarinya, dan mendapati sebuah sebuah kantong plastik hitam di sebelah saya, agak basah.
Dan itu sumber baunya.
Saat saya ambil kantong plastik yang sedikit basah oleh cairan yang saya tidak tahu apa, baunya langsung menusuk ke hidung, busuk banget! Saya baru ingat saat itu juga, beberapa hari yang lalu, mungkin tiga atau empat hari, saya membawa bekal nasi goreng ke kampus, dan saya tidak memakannya. Lalu saya lupa mengahabiskannya di rumah, dan bahkan lupa kalo saya bawa bekal. Tapi saya tidak pernah memastikan isinya, sehingga saya heran kenapa kantong plastik ini bisa segini basahnya.
Akhirnya langsung saya bawa ke tempat sampah di belakang lapangan basket depan rumah, di situ dengan berhati-hati saya buka tempat makan kecil berwarna biru itu, agar tidak terciprat maupun mencium baunya, walau bagaimana pun baunya tetap tercium.
Astaga baunya…
Akhirnya “nasi goreng” itu berhasil saya keluarkan, saya jatuhkan begitu saja ke tanah. Bentuknya? Saya baru tahu bentuk nasi goreng basi itu sepert bubur muntah, cair seperti dibubur, bau seperti muntah, bahkan lebih parah. Bahkan saya menahan muntah waktu menulis ini.
Setelah membuangnya, tentunya saatnya untuk mencuci tempat makannya. Selama perjalanan dari tempat sampah ke rumah, saya bisa menjauhkan tempat makan yang juga bau itu, sehingga baunya tidak begitu tercium. Tapi saat mencuci? Hmm.
Benar saja, saat saya membuka tempat makan yang tadi saya tutup dulu itu, rasanya seperti dimuntahin orang maag muntaber stadium akut yang gak pernah sikat gigi dari lahir dan hobi kumur pake muntahan orang.
Saya menahan muntah, dan mencuci tempat makanan itu sambil mendongak jauh-jauh ke atas. Mata saya merah berlinang. Perut saya bergejolak.
Usai mencuci, sudah tidak bau lagi.
Beberapa menit kemudian saya dijemput untuk pergi ke bandara, selama perjalanan bau itu masih bisa saya cium, bahkan sampai pulang ke rumah.
Hati-hatilah dengan… nasi goreng BASI!
It’s buzzing.
No! They are buzzing!
All the bell in the house:
first gate bell
thief alarm
fire alarm
wake-in-the-morning alarms
stereo set’s timers
air conditioner
video deck
all the hanged clocks and on the desk ones
even my PC’s motherboard!
I left my phone and find
SALMON!
And
MICHAEL JACKSON!
HAHAHAHAHAHAHA!!!!
Tonight, my heart came back. I was hearing this song when suddenly my chest felt hurt. Why did you come back? To put a drop of tear on my cheek, and only that?
The Translated-Lyric Below was Copy-Pasted from http://bambooxzx.wordpress.com/2009/09/19/school-food-punishment-flow/
flow
school food punishment
These days don’t disappear like bubbles.
Today, again, I’m hoping for a hint of presence on the other side of the door.
Even though the words of the yesterday that pretended to be tomorrow finally disappeared,
What I can do to keep hold over everything of yours is the only thing I’m thinking about.
Your voice overflows through this parched room.
As though searching for water, I’m calling for you.
Waiting for a favorable wind, I sharpen my ears.
As though searching for water, I’m calling for you.
These days don’t disappear like bubbles.
Today, again, I’m hoping for a hint of presence on the other side of the night.
Even though I know full well that a tomorrow the same as yesterday won’t come,
What I can do to keep hold over everything of yours is the only thing I’m thinking about.
Your voice overflows through this parched room.
As though searching for water, I’m calling for you.
Waiting for a favorable wind, I sharpen my ears.
As though searching for water, I’m calling for you.
At this point, I step back, clicking my heels.
As though searching for water, I’m calling for you.
Di hari Sumpah Pemuda, Jakarta Post justru bahas bahasa alay. Mungkin supaya alay2 (dalam arti: pengguna bahasanya) itu masih memaknai hari sakral pemuda Indonesia, mereka mesti diberi surat Sumpah Pemuda yang telah d’InD@hQAnNn.
ZhOomPah PmOoD4
QmEe PtRa n PtRy InDun3ZhYaA, m’nGaQoO b’TmPaAh d@R4h yG sToO, tNaH AyRr InDun3ZhYaA!
QmEe PtRa n PtRy InDun3ZhYaA, m’nGaQoO b’bAnXa yG sTuW, bNgS@ InDun3ZhYaA!
QmEe PtRa n PtRy InDun3ZhYaA, m’JnJuXx tNg61 bHsz pLsTwAn, bHsZ InDun3ZhYaA!
Untuk para pengguna bahasa Alay, kudoakan agar insaf ya.
B4P@ qMee yG aD d’ZhuRghAa
DmLyAQnLh nm-MoOh
dTglAh kRja4n-MoOh
jDlh kHndQ-MoOh
d’BoOmeE sPrty d’Dlm ZzuRghAa
bRiknLh qMeh RzQ pD hR nEehH
N mPoOn’Lh d’Saa” qMeEe
sPrty qMipUn mNgmPn1e yG bRslH pD qMeeh
n jGn mZooQn QmeEh dLm pRcUba4nn
tPy bBzzQnLh qMie dR y6 zhjadddhh
‘mIennn
Aku sempat berdialog dengan tuhan. Sayang aku lupa wajahnya. Diakah yang menghapus ingatanku? Yang pasti wajahnya tidak bule gondrong brewokan. Saat kutanyakan masalah wajah itu, ia hanya tertawa.
Aku tidak merasa harus menghamba. Mengiba. Tunduk. Tingkahnya mengisyaratkan relasi persahabatan yang erat. Bagai ia telah menjadi temen terdekatku sejak aku bisa mengingat waktu terkanakku.
Sebelumnya banyak pertanyaan, kecaman, keluh kesah, protes, dan makian yang telah kusiapkan untuk menyambutnya. Tapi ia seperti berpasrah, aku seperti tahu bahwa ia hanya akan mendengar dan menerimanya dengan rendah hati. Aku jadi merasa malu sendiri.
Tiba-tiba saja kita berdua telah tenggelam dalam canda dan tawa. Kadang kita berdua hanya berdiam diri, namun tidak kosong.
Aku bertanya, apakah kau laki-laki? Mengapa kau maha rahim? Jika karena kau memahat membentuk tanah dan kayu menjadi Adam, dan merangkai rusuk dengan bunga dan dedaunan menjadi Hawa, aku lebih memilih memanggilmu Maha Seniman. Apalagi hal itu semakin diperkuat dengan suara nyanyianmu yang merdu, keluar dari kicau burung di pagi hari dan harmoni derik jangkrik di malam hari. Kau pun melukis pemandangan yang hidup, bernyawa, yang kini dibunuh perlahan oleh aku, manusia. Semua seniman memasukkan jiwanya dalam karya, sehingga tak disangkal lagi, kau itu Maha Seniman!
Dia diam saja. Tersenyum. Mungkin mendapatkan inspirasi baru untuk karyanya selanjutnya. Lalu ia pergi begitu saja.
Aku jadi melamun sendiri.
Mungkinkah aku karyanya yang membusuk?
“Ad Maiorem Dei Gloriam”
-Kolese Gonzaga dan Kolese lain
“Tiada kesan tanpa kehadiranmu”
-KMK UI
“Salam Panggung!”
-Satu Kata Panggung
“Salam Imajinasi.”
-STUDIO DG
Kemarin, Senin, 5 Oktober 2009, gwe mengalami kecelakaan kecil.
Pulang dari kampus jam 15, mampir ke Poins dulu buat nuker mouse, yang akhirnya cuma bisa nunggu seminggu dibetulin. Pulang dari Poins, hujan deras banget.
Betenya mampus. Mouse gak ada saat itu juga, bayar parkir 4000, hujannya deras banget, susah ngeliat jalan, dan lalu lintas macet najis.
Gwe memilih jalan memutar agar bisa masuk lagi ke Adyaksa, karena gwe malas lewat Pasar Jumat yang biasanya macet di terminal. Karena kebetean gwe memuncak, saat balik arah, gwe pun ngebut, tak menyadari motor di 20 meter depan mengurangi kecepatan karena genangan air yang tinggi. Tapi gwe dah telanjur berkecepatan tinggi, sehingga saat gwe rem, mobil itu harus ngesot sekitar 5 meter, dan menghantam motor Supra X-125 di depan hingga pengendaranya terpelanting.
Shit..
Kami berdua minggir. Gak ada lecet di kedua kendaraan kami, dia tidak luka hanya sakit2 di beberapa bagian, tapi pijakan kaki kanannya bengkok. Gilanya dia minta ganti rugi 200rb, yang segera gwe tolak. Gwe tawarin 100rb, kalo gak mau ambil aja tuh SIM gwe (pilihan bodoh karena bikin SIM lebih mahal dari 200rb..)
Akhirnya dia setuju ngambil 100rb itu, dan membuat gwe sukses bokek di awal bulan.