Satu hari di Bandung yang rasanya masih sejuk untuk ditinggali, di rumah eyang, aku bermain berdua dengan adikku. Kami bermain gundu di dalam rumah. Saat itu rumah kosong, hanya ada kami berdua yang ditinggal oleh penghuni rumah termasuk ayah dan ibu ke gereja. Kami berdua tinggal di rumah demi menonton Doraemon, pastinya.
Dulu kulitku elastis. Dan layaknya anak kecil, aku pun suka pamer sesuatu yang, bila dilihat oleh manusia dewasa, tidak penting, yaitu elastisnya kulitku itu.
Termasuk kulit hidung.
Pamerlah aku ke hadapan adikku. Kumasukkan gundu ke lubang hidungku (cuma setengah bagian sih) lalu kukeluarkan lagi. Dan dengan bangganya ku berkata kepadanya, “Kamu bisa gak dek!?”
Dia pun meniruku tidak mau kalah. Dia masukkan gundu itu lubang hidungnya dan tak pernah kusangka gundu itu masuk terlalu dalam dan tersangkut di dalam hidungnya!
Aku panik. Adikku terlihat agak megap-megap. Aku tekan hidungnya yang menjendol dari luar tapi tidak berpengaruh. Aku makin panik. Aku lari ke depan rumah, ke belakang rumah, berharap aku bertemu orang yang bisa membantuku mengeluarkan gundu itu dari hidungnya. Pikiranku gundu itu bisa masuk lebih dalam lagi dan menyumbat saluran pernapasannya. Dan akibatnya bisa lebih mengerikan…
Sampai akhirnya aku tidak bisa membendung ledakan tangisku. Aku putus asa. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Adikku tidak menangis. Dia malah terlihat sangat tenang sambil menekan2 tonjolan gundu itu dari luar hidungnya. tapi tetap tidak berhasil.
Akhirnya kudengar suara pintu dibuka, aku langsung menerjang ke ayahku yang bingung kenapa aku menangis. Dengan terbata-bata aku menjelaskan semuanya, bahwa gundu itu menyangkut di hidungnya. Mereka terlihat tenang, aku tetap panik, dan adikku tetap tidak menangis.
Akhirnya adikku dibawa ke rumah sakit yang kebetulan ada di seberang rumah, aku mendekam di rumah, tidak berani ikut. Aku cuma bisa menunggu di ruang tamu, menunggu adikku kembali lagi.
Beberapa saat kemudian ayah, ibu, dan adikku kembali. Adikku berjalan gontai digandeng ibu. Mata dan hidungnya merah. Aku langsung menerjang adikku dan memeluknya dengan penuh penyesalan, dia mengalami hal itu gara-gara aku. Sembari itu, ayah bercerita bahwa adikku merasa sedikit sakit saat gundunya diambil dengan alat penjepit.
Namun ia tidak menangis.
***
Lama kemudian aku berpikir, bila aku cuma bisa memasukkan gundu setengah bagian, dan dia bisa sampe nyangkut, berarti lebih elastis kulitnya dong?
Dan sekarang aku berpikir, kok dulu bisa masukin gundu ke hidung sih?? Bener gak sih?? Sekarang kok gak muat???